Pemadamkebakaran pun datang kurang dari lima menit sejak mendapat laporan kejadian. "Pukul 4.02 api dinyatakan padam dengan hadirnya petugas pemadam kebakaran," katanya. Sebagai gambaran, Ruang Puntadewa merupakan tempat perawatan pasien akut laki-laki dewasa di RSJD dr Arif Zainudin yang berisi 18 pasien saat kebakaran terjadi. KebakaranGolongan A. Kebakaran bahan padat kecuali logam yang kebanyakan tidak dapat terbakar dengan sendirinya. Sifat utama dari kebakaran benda padat adalah bahan-bakarnya tidak mengalir dan sanggup menyimpan panas baik sekali. Misalnya : karet, kertas, kayu, plastic. Kebakaran Golongan B. Kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. Berikutini adalah kerugian pemadam kebakaran dengan media air, kecuali JAWAB : biaya eksploitasi rendah 8. Bahan pemadam busa efektif untuk memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh JAWAB : minyak, solar dan cairan lainnya 9. Bahan pemadam busa kurang efektif memadamkan kebakaran yang disebabkan oleh alkohol, mengapa demikian Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Manakah yang tidak termasuk dalam media pemadam kebakaran? air clear agent busa powder etanol Jawaban yang benar adalah E. etanol. Dilansir dari Ensiklopedia, manakah yang tidak termasuk dalam media pemadam kebakaran etanol. [irp] Pembahasan dan Penjelasan Menurut saya jawaban A. air adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Menurut saya jawaban B. clear agent adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan lain. [irp] Menurut saya jawaban C. busa adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang ditanyakan. Menurut saya jawaban D. powder adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan lain. [irp] Menurut saya jawaban E. etanol adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google. Kesimpulan Dari penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah E. etanol. [irp] Jika anda masih punya pertanyaan lain atau ingin menanyakan sesuatu bisa tulis di kolom kometar dibawah. Kebakaran adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika suatu bahan mencapai temperatur kritis dan bereaksi secara kimia dengan oksigen yang menghasilkan panas, nyala api, cahaya, asap, uap air, karbon monoksida, karbondioksida, atau produk dan efek lain Standar Nasional Indonesia/SNI. Kebakaran merupakan api yang tidak terkendali dan tidak diinginkan oleh manusia. Kebakaran termasuk keadaan darurat yang dapat menimbulkan berbagai macam kerugian mulai dari manusia, harta benda, maupun produktivitas, dan kerugian sosial. Menurut PERMEN PU pasal 1, bahaya kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan oleh adanya ancaman potensial dan derajat terkena pancaran api sejak dari awal terjadi kebakaran hingga penjalaran api, asap, dan gas yang ditimbulkan. Kebakaran dapat terjadi karena adanya tiga unsur segitiga api yang saling berhubungan, yaitu adanya bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau nyala. Pada umumnya kebakaran terjadi secara tidak terduga, namun dapat di kontrol atau dicegah dengan melepaskan satu dari tiga unsur segitiga api tersebut. Teori Terjadinya Api a. Segitiga Api Triangle of Fire Api tidak terjadi begitu saja namun terdapat suatu proses kimiawi antara unsur bahan bakar fuel, oksigen O2 dan panas yang dikenal dengan teori segitiga teori segitiga api, kebakaran terjadi karena adanya tiga faktor yang menjadi unsur api, yaitu Ramli, 2010 Bahan bakar fuel, meliputi bahan padat, cair, dan gas yang dapat terbakar dan tercampur dengan oksigen dari udara. Sumber panas heat, yaitu pemicu kebakaran dengan energi yang cukup untuk menyalakan campuran antara bahan bakar dan oksigen dari udara. Oksigen, yaitu proses kebakaran tidak terjadi tanpa adanya udara atau oksigen. b. Bidang Empat Api Tetrahedron of Fire Kebakaran dapat juga terjadi karena ada tambahan unsur keempat yaitu reaksi berantai pada pembakaran sehingga dimensi segitiga api menjadi model baru yang disebut dengan bidang empat api atau yang sering disebut juga Tetrahedron of Fire. Berdasarkan teori bidang empat api, terdapat empat proses penyalaan api mulai dari tahap permulaan hingga menjadi besar, yaitu Ramli, 2010 Incipien Stage Tahap Permulaan. Pada tahap ini tidak terlihat adanya asap, lidah api atau panas, tetapi terbentuk partikel pembakaran dalam jumlah yang signifikan selama periode tertentu. Smoldering Stage Tahap Membara. Partikel pembakaran telah bertambah membentuk apa yang kita lihat sebagai asap. Masih belum ada nyala api atau panas yang signifikan. Flame Stage. Tercapai titik nyala dan mulai terbentuk lidah api. Jumlah asap mulai berkurang sedangkan panas meningkat. Heat Stage. Pada tahap ini terbentuk panas, lidah api, asap dan gas beracun dalam jumlah besar. Transisi dari flame stage ke heat stage biasanya sangat cepat seolah-olah menjadi satu dalam fase sendiri. Jenis-jenis Kebakaran Menurut PERMEN Tenaga Kerja pasal 2, kebakaran diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu Kebakaran Golongan A. Kebakaran bahan padat kecuali logam yang kebanyakan tidak dapat terbakar dengan sendirinya. Sifat utama dari kebakaran benda padat adalah bahan-bakarnya tidak mengalir dan sanggup menyimpan panas baik sekali. Misalnya karet, kertas, kayu, plastic. Kebakaran Golongan B. Kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar. Misalnya solvent, pelumas, produk minyak bumi, pengencer cat, bensin, dan cairan yang mudah terbakar lainnya. Kebakaran Golongan C. Kebakaran dari instalasi listrik dan listrik itu sendiri bertegangan. Kebakaran Golongan D. Kebakaran logam seperti magnesium, titanium, uranium, sodium, lithium, dan potassium. Tahap-tahap Kebakaran Proses terjadinya kebakaran pada gedung atau ruang tertutup terbagi menjadi lima tahap, yaitu sebagai berikut Tanubrata, 2006 a. Tahap Penyalaan Tahap ini ditandai dengan munculnya api dalam ruangan. Proses timbulnya api dalam ruangan ini disebabkan oleh adanya energi panas yang mengenai material yang dapat terbakar dalam ruang, misalnya ledakan kompor, tabung gas, hubungan singkat arus listrik, puntung rokok membara, dll. Akibat dan gejala yang ditimbulkannya masih relatif kecil sehingga kejadian pada tahap ini seringkali tidak diketahui. b. Tahap Pertumbuhan Growth Period Setelah tahap penyalaan, api mulai berkembang sebagai fungsi dari bahan bakar, dengan sedikit atau tanpa pengaruh dari ruangan. Udara yang ada di dalam ruangan masih cukup untuk mensuplai pembakaran. Jika material yang terbakar masih cukup banyak dan pertumbuhan api berlangsung terus, sehingga menyebabkan temperatur ruangan naik. Keadaan demikian ini disebut api dikendalikan bahan bakar. Pada tahap ini api masih teralokasi dan temperatur ruangan masih relatif rendah, di bawah 300 derajat C. Tahap pertumbuhan ini merupakan tahap yang paling baik untuk evakuasi penghuni dan sensor-sensor pencegah kebakaran harus sudah bekerja. Asap dan gas-gas beracun masih sedikit, sehingga ruangan masih cukup aman bagi tindakan evakuasi. Upaya pengendalian kebakaran sebaiknya dilakukan pada tahap ini, oleh karena selepas flashover api susah dikendalikan. c. Tahap Flashover Flashover secara umum didefinisikan sebagai masa transisi antara tahap pertumbuhan dengan tahap pembakaran penuh. Proses berlangsungnya sendiri sangat cepat, berkisar 300-600 derajat C. Munculnya flashover disebabkan oleh adanya ketidakstabilan panas di dalam ruangan. Beberapa kriteria kapan terjadinya flashover yaitu Saat lidah api flame menyentuh langit-langit. Saat lidah api flame mulai menjulur keluar bukaan. Saat temperatur lapis atas ruangan mencapai 300-600 derajat C. Saat timbul tingkat radiasi kritis pada lantai ruangan yang besarnya 2 cm2. Ketika flashover tercapai, yang sebelumnya terbakar sebagian mendadak dan serentak terbakar seluruhnya. Jadi flashover adalah kondisi batas dimulainya kebakaran total dalam ruangan. Kecepatan pembakaran naik secara cepat sehingga api sukar dikendalikan. Oleh karena itu perkiraan kapan terjadinya flshover sangat penting dalam pengkajian perilaku kebakaran dalam ruangan. d. Tahap Pembakaran Penuh Fully Developed Fire Pada tahap ini kalor yang dilepaskan heat release adalah yang paling besar, karena kebakaran terjadi di seluruh ruangan. Seluruh material dalam ruang terbakar, sehingga temperatur dalam ruang menjadi sangat tinggi, mencapai 1200 derajat C. Pada tahap ini perkembangan api sangat dipengaruhi oleh dimensi dan bentuk ruangan, terutama lebar bukaan, karena udara dalam ruangan sendiri sudah tidak mampu menyuplai pembakaran sepenuhnya. Kondisi demikian biasa disebut sebagai api yang dikendalikan oleh ventilasi. Akibat yang mungkin timbul adalah rusaknya elemen-elemen akibat thermal stress, kerusakan pada komponen struktur pendukung, kemudian runtuhnya bangunan. e. Tahap Surut Decay Tahap surut tercapai bila material terbakar sudah habis dan temperatur ruangan berangsur turun. Selain penurunan temperatur, ciri lain tahap ini adalah turunnya laju pembakaran. Pada tahap ini perkembangan api kembali sebagai fungsi dari material yang terbakar. Semakin menyusut bahan-bahan yang dapat terbakar dalam ruangan semakin api surut. Prosedur dan Metode Pemadaman Kebakaran Prosedur penanggulangan kebakaran wajib disusun oleh instansi kerja yang kemudian harus disosialisasikan kepada seluruh pekerja. Kewajiban penyusunan prosedur penanggulangan kebakaran dijelaskan pada KEPMENAKER bahwa kewajiban pengurus atau perusahaan yaitu memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat kerja yang mempekerjakan lebih dari 50 lima puluh orang tenaga kerja dan atau tempat kerja yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat. Adapun metode pemadaman kebakaran menurut NFPA 1991 adalah sebagai berikut Triasbudi, 1998 a. Pendinginan Cooling Suatu kebakaran dapat dipadamkan dengan mendinginkan permukaan dan bahan terbakar dengan menggunakan bahan semprotan air sampai mencapai suhu di bawah titiknya. Pendinginan permukaan dan minyak yang terbakar akan menghentikan proses terbentuknya uap. Bila penguapan dapat dihentikan, kebakaran akan berakhir. b. Penyelimutan Smothering Suatu kebakaran dibatasi dengan memutus hubungannya dengan oksigen atau udara yang diperlukan dalam terjadinya proses kebakaran. Menyelimuti bagian yang terbakar dengan CO2 atau busa akan menghentikan suplai udara. c. Pemisahan bahan yang terbakar Suatu kebakaran dari bahan yang terbakar dapat dipisahkan dengan jalan menutup aliran yang menuju ke tempat kebakaran atau menghentikan suplai bahan bakar yang dapat terbakar. d. Memutus rantai reaksi Pemutusan rantai reaksi pembakaran ini dapat dilakukan secara fisik, kimia atau kombinasi fisika-kimia. Secara fisik, nyala api dapat dipadamkan dengan peledakan bahan peledak di tengah-tengah kebakaran. Secara kimia, pemadaman nyala api dapat dilakukan dengan pemakaian bahan-bahan yang dapat menyerap hidroksit OH dari rangkaian rantai reaksi pembakaran. Daftar Pustaka Ramli, Soehatman. 2010. Petunjuk Praktis Manajemen Kebakaran fire management. Jakarta Dian Rakyat. Tanubrata, M. 2006. Perencanaan Bangunan Terhadap Api. Yogyakarta Universitas Teknologi Yogyakarta. Triasbudi, Heny. 1998. Dalam Sifat-Sifat dan Dinamika Api. Jakarta Direktorat Pengolahan PERTAMINA. Kebakaran dapat terjadi di mana saja dan kapan saja selama ada pemicunya, seperti bahan-bahan yang mudah terbakar. Jika Anda memiliki aset yang terindikasi bahan yang mudah terbakar maka Anda harus menyiapkan fire equipment yang dapat memproteksi aset Anda dan mengetahui bagaimana cara menggunakan alat pemadam api, salah satunya adalah alat pemadam api ringan. Alat pemadam api juga memiliki berbagai macam media yang disesuaikan dengan jenis kebakaran yang telah dikelompokkan pada klasifikasi kelas kebakaran. Klasifikasi Kelas Kebakaran Sebelum Anda membeli alat pemadam api, sangat penting bagi Anda untuk mengetahui alat pemadam api seperti apa yang tepat sehingga efektif dalam penanganan kebakaran. Ada beberapa jenis kebakaran yang diklasifikasikan berdasarkan bahan penyebab kebakaran. Setiap alat pemadam api memiliki kriteria masing-masing yang dibuat khusus untuk penanganan jenis kebakaran tertentu. Dengan mengetahui kelas-kelas kebakaran tersebut tentunya akan membantu Anda mengenali risiko yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Klasifikasi Kebakaran Kelas A Kebakaran kelas A adalah kebakaran yang disebabkan oleh benda padat yang mudah terbakar seperti kayu, kain, kertas, atau plastik. Klasifikasi Kebakaran Kelas B Kebakaran kelas B adalah kebakaran yang disebabkan oleh benda cair atau gas yang mudah terbakar seperti bensin, cat, thinner, gas LPG, dan gas LNG. Klasifikasi Kebakaran Kelas C Kebakaran kelas C adalah kebakaran yang disebabkan oleh penggunaan komponen elektrik listrik seperti televisi, refrigerator, instalasi listrik, dan lain sebagainya. Klasifikasi Kebakaran Kelas D Kebakaran kelas D adalah kebakaran yang disebabkan oleh benda metal yang mudah terbakar seperti potassium, sodium, aluminium, dan magnesium. Media Alat Pemadam Api Pemilihan media alat pemadam api dapat disesuaikan dengan lokasi atau tempat yang ingin diproteksi agar lebih efektif. Berikut Media alat pemadam api untuk memadamkan kebakaran yang sesuai dengan kelasnya Media Alat Pemadam Api Cair Media alat pemadam api cair biasa digunakan untuk kebakaran kelas A dan B. Media Alat Pemadam Api Powder Media alat pemadam api dry powder atau dry chemical powder digunakan untuk mengatasi kebakaran kelas A, B, C, dan D. Media Alat Pemadam Api CO2 Karbon Dioksida Media alat pemadam api CO2 atau karbon dioksida carbon dioxide dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Media Alat Pemadam Api Foam Media alat pemadam api foam dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Showing 36 comments pingbacks / trackbacks

manakah yang tidak termasuk dalam media pemadam kebakaran